Halaltoday.id, Jakarta- Didirikan oleh sarjana perikanan, Fisnack hadir sebagai solusi camilan sehat dan praktis untuk gaya hidup modern, dengan mengusung pemanfaatan perikanan berkelanjutan melalui prinsip zero waste, sekaligus menghadirkan produk bernilai gizi yang lebih baik.
Berbekal visi menjadi pemimpin industri cemilan ikan di Indonesia, Ciptoyoso mendirikan Fisnack untuk menyediakan camilan ikan berkualitas dan bermutu dengan produk inovatif yang mendukung gaya hidup sehat modern.
Hal itu tentu saja potensi pasar yang belum digarap banyak pemain lain. Pasalnya, potensi besar hasil samping industri fillet ikan belum dimanfaatkan secara optimal. Kekhawatiran terhadap camilan yang beredar saat ini dengan kandungan bahan tambahan berlebihan juga menjadi alasan lahirnya Fisnack.
Menurut Ciptoyoso, Fisnack sendiri hanya menggunakan kulit ikan segar dan ukurannya besar yang telah memenuhi standar mutu ketat. Proses pengolahannya dilakukan dengan menerapkan sanitasi dan higienis sesuai standart kemanan pangan internasional. Karena bagi perusahaan ini mutu dan kualitas adalah ciri khas produknya.
Bagi sebagian orang, kulit ikan patin mungkin hanya dianggap limbah. Namun bagi Ciptoyoso, pendiri Fisnack, bahan ini justru menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Dari dapur rumahan, usahanya kini berkembang menjadi produsen camilan premium yang siap menembus pasar ekspor.
“Awalnya, kulit ikan patin ini kan terbuang saat proses fillet. Dagingnya dijual frozen ke restoran, tapi kulitnya tidak dimanfaatkan. Dari situ saya berpikir, bisa enggak ini diolah jadi sesuatu yang punya nilai jual,” ujar dalam sebuah wawancara media di event bazar.
Setelah melalui uji laboratorium yang menunjukkan kandungan gizi yang baik, Ciptoyoso mantap mengembangkan produk keripik kulit ikan patin dengan berbagai varian rasa. “Prosesnya tidak instan. Selama dua tahun sejak 2019, Ciptoyoso dan mitranya melakukan trial and error, mulai dari kemasan plastik transparan yang dipasarkan di warung, hingga mengurus sertifikasi halal dan BPOM,” katanya.
Titik balik terjadi pada 2021, ketika dia menjadi Mitra Binaan Pertamina setelah direkomendasikan Asosiasi Bisnis Development Services Indonesia (ABDSI) dan melalui proses seleksi serta kurasi yang ketat. Ciptoyoso bahwa dukungan yang diberikan Pertamina tak hanya berupa akses modal, tetapi juga pelatihan, pendampingan, hingga pembukaan jaringan pemasaran.
Saat ini Fisnack hadir dalam tiga varian rasa yakni Original, Spicy, dan Salted Egg, dengan Salted Egg sebagai varian terlaris.
Untuk pasar offline, Ciptoyoso memasarkan merek Fisnack dengan harga eceran. Sementara untuk pasar online, dia menawarkan merek Piktin yang juga merupakan kulit ikan patin tetapi merupakan grade B dengan harga sekitar 25–30 persen lebih murah.
“Untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, kami menghadirkan brand Piktin yang harganya lebih terjangkau,” tuturnya.
Penjualan Fisnack kini mencapai sekitar ratusan juta per bulan, dengan pertumbuhan signifikan terutama dari kanal daring. Untuk proses pemasaran ke luar negeri, Ciptoyoso sudah melakukan ekspor ke Taiwan dan Sydney, Australia, melalui pihak ketiga. Namun dia juga menargetkan untuk bisa melakukan ekspor secara mandiri ke Kanada dan Selandia Baru.



