Halal Today
  • Halal Updated
  • Halal Brand
  • Halal Lifestyle
  • Brand Index
    • Digital Halal Brand Index 2025
    • Halal Brand Consumer Choice Index 2025
    • Sharia Index
  • Khazanah GNH
No Result
View All Result
Halal Today
  • Halal Updated
  • Halal Brand
  • Halal Lifestyle
  • Brand Index
    • Digital Halal Brand Index 2025
    • Halal Brand Consumer Choice Index 2025
    • Sharia Index
  • Khazanah GNH
No Result
View All Result
Halal Today
No Result
View All Result
Home Khazanah GNH

Melukat, Toleransi, dan Batas yang Perlu Kita Jaga

Syahril Izza by Syahril Izza
Agustus 3, 2026
in Khazanah GNH
0
Melukat, Toleransi, dan Batas yang Perlu Kita Jaga

Ilustrasi

399
SHARES
2.3k
VIEWS
Share on WhatsAppShare on Facebook

Oleh: Prof. Dr. KH. Nadirsyah Hosen, LL.M.A. (Hons), Ph.D – Gus Nadir

Halaltoday.id, Jakarta- Belakangan ini, media sosial kembali ramai membicarakan melukat. Ada yang menganggapnya sekadar tradisi Bali. Ada yang melihatnya sebagai wujud toleransi. Bahkan muncul ungkapan dari seorang selebriti yang mengijinkan anaknya ikut melukat dengan alasan, “yang penting iman itu ada di dalam hati.”

Simak yuk pembahasan ini

Menurut saya, sebelum berdebat panjang, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab lebih dahulu: menurut umat Hindu sendiri, apakah melukat itu sekadar budaya atau memang ritual keagamaan?

Saya sengaja tidak menjawabnya dari perspektif Islam. Biarlah kita belajar memahaminya langsung dari otoritas agama Hindu.

Kementerian Agama RI melalui Bimas Hindu Kota Denpasar menjelaskan bahwa melukat adalah penyucian lahir dan batin (sekala dan niskala) untuk melepaskan malepataka. Melukat termasuk upacara Manusa Yadnya. Pelaksanaannya dilakukan melalui dua cara, yaitu mendatangi sumber air yang disucikan atau menggunakan Tirtha Penglukatan yang dibuat oleh Sulinggih, pendeta Hindu yang memiliki kewenangan.

Tujuannya adalah menyucikan manusia agar kembali kepada Tuhan Yang Maha Suci. Bahkan terdapat berbagai jenis melukat, seperti penglukatan oton, sapuh leger, dan melik, yang masing- masing memiliki tujuan keagamaan tersendiri.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali. Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, menjelaskan bahwa melukat adalah penyucian secara sekala dan niskala menggunakan tirta atau air suci.

Sementara Pinandita I Ketut Pasek Swastika, Wakil Ketua Bidang Agama dan Kerohanian PHDI Bali, menyayangkan semakin banyak pemandu wisata yang memperkenalkan melukat hanya sebagai “mandi suci” atau pengalaman wisata spiritual.

Menurut beliau, melukat bukan sekadar mandi. Di dalamnya terdapat puja mantra, tata cara yang berbeda sesuai jenis penglukatan, bahkan aturan tertentu yang berkaitan dengan hari kelahiran seseorang. Karena itu, beliau mengingatkan agar kesakralan melukat tidak direduksi menjadi atraksi wisata atau bahan konten media sosial.

Bagi saya, justru di situlah letak penghormatan yang sesungguhnya. Menghormati agama lain berarti menerima penjelasan mereka sendiri tentang praktik keagamaannya. Jika otoritas Hindu menjelaskan bahwa melukat adalah ritual penyucian yang sakral, maka kurang tepat apabila kita menyebutnya sekadar budaya atau sekadar mandi.

Lalu bagaimana Islam memandangnya?

Islam tidak mengajarkan kita memusuhi pemeluk agama lain. Allah berfirman:

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8)

Ayat ini menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Kita diperintahkan berbuat baik, berlaku adil, dan menghormati pemeluk agama lain. Namun, penghormatan tidak identik dengan partisipasi dalam ritual keagamaan. Menghormati berarti membiarkan orang lain beribadah sesuai keyakinannya, bukan mengambil bagian dalam ibadah tersebut.

Pada saat yang sama, Surah al-Kafirun menolak tawaran mencampur atau mempertukarkan ritual: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” QS al-Kafirun [109]: 6.

Menariknya, kedua prinsip itu tidak bertentangan. Kita diperintahkan berlaku baik kepada manusia, tetapi tidak diminta meleburkan ibadah atau sinkretisme.

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menyebut melukat hanya sebagai “budaya”. Banyak tradisi memang memiliki sisi budaya dan agama sekaligus. Keduanya tidak selalu dapat dipisahkan seperti memisahkan dua warna pada kain.

Mempelajari arsitektur pura adalah kegiatan kebudayaan. Menyaksikan upacara dengan sikap hormat juga dapat menjadi pengalaman kebudayaan. Mengenakan kain karena diwajibkan oleh tata tertib tempat suci merupakan penghormatan kepada adat setempat. Menari dalam pertunjukan seni yang tidak memiliki fungsi ritual mungkin pula berada dalam ranah budaya.

Akan tetapi, ketika seseorang ikut disucikan dengan air suci, mengikuti doa, membuat sikap sembah, menerima berkat, atau memasuki rangkaian yang oleh pemeluk agama tersebut dipahami sebagai ritual keagamaan, persoalannya telah bergeser. Ia tidak lagi sekadar melihat kebudayaan dari luar. Ia telah berpartisipasi dalam suatu tindakan religius.

Kita juga hidup di zaman FOMO. Apa yang sedang viral segera ingin dicoba. Banyak orang mengikuti suatu ritual bukan karena memahami maknanya, melainkan karena ingin memperoleh pengalaman yang unik atau menghasilkan foto yang menarik di media sosial.

Padahal ritual agama bukanlah panggung estetika. la lahir dari keyakinan, diwariskan lintas generasi, dan dijalankan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

BacaJuga

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

Rajawali yang Tumbuh di Kandang Itik

Di sinilah ungkapan “iman itu di dalam hati” perlu diperiksa dengan tenang.

Benarkah iman itu cukup dalam hati, apapun perbuatan kita?

Dalam tradisi Ahlus Sunnah, tidak ada pandangan bahwa iman cukup berhenti sebagai urusan batin semata. Meskipun terdapat perbedaan penjelasan di antara mazhab-mazhab teologi Sunni mengenai hubungan iman dan amal, semuanya sepakat bahwa iman yang benar harus tampak dalam ketaatan dan kehidupan seorang Muslim. Karena itu, ungkapan “iman itu ada di dalam hati” benar, tetapi tidak lengkap.

Seseorang dapat tidak menghakimi isi hati, tetapi tetap menilai perbuatannya. Kita tidak mengetahui isi hati orang yang meninggalkan salat, misalnya, tetapi agama tetap mengajarkan bahwa meninggalkan salat adalah perbuatan yang keliru. Isi hati dan tindakan lahir bukan dua dunia yang sama sekali terpisah.

Artinya, hati memang merupakan pusat keimanan. Namun iman tidak berhenti di dalam hati. Ia tampak dalam pilihan hidup, ibadah, dan kesediaan menjaga batas-batas yang diyakini. Secara singkat, iman adalah pengakuan dengan lisan, pembenaran dalam hati, dan amal dengan anggota badan.

Menariknya, setiap agama memiliki jalan penyuciannya sendiri. Dalam Hindu, melukat merupakan salah satu jalan penyucian lahir dan batin.

Dalam Islam, Allah juga mengajarkan jalan penyucian yang tidak kalah indah. Wudu bukan sekadar membasuh wajah dan tangan. Rasulullah bersabda bahwa ketika seorang mukmin berwudu, dosa- dosanya berguguran bersama tetesan air yang mengalir dari anggota tubuhnya (Sahih Muslim, no. 244). Hati pun dibersihkan dengan zikir, istigfar, dan taubat. Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS al- Ra’d [13]: 28)

Tidak semua air menyucikan dengan makna yang sama. Dalam Islam, air menjadi sarana ibadah karena Allah mensyariatkannya melalui wudu dan mandi wajib.

Dalam Hindu, tirta memperoleh kesuciannya melalui rangkaian ritual dan mantra. Bentuknya sama-sama air, tetapi landasan teologinya berbeda. Di situlah pentingnya kita menghormati perbedaan tanpa mencampurkannya.

Ada satu hal lagi yang menurut saya tidak kalah penting.

Peristiwa seperti ini seharusnya menjadi kesempatan bagi para orang tua untuk berdialog dengan anak-anaknya. Indonesia adalah negeri yang majemuk. Anak-anak kita akan berteman dengan pemeluk agama yang berbeda, menghadiri undangan mereka, berkunjung ke rumah mereka, bahkan mungkin menyaksikan berbagai upacara keagamaan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Di situlah tugas orang tua. Bukan menumbuhkan rasa takut kepada agama lain, melainkan menjelaskan dengan tenang di mana batas antara tradisi dan ritual keagamaan, antara menghormati dan mengikuti, antara toleransi dan menjaga akidah.

Anak perlu diajarkan bahwa menghormati teman yang berbeda agama adalah bagian dari akhlak Islam. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga perlu memahami bahwa setiap agama memiliki ibadah dan jalan spiritualnya masing-masing yang tidak perlu dicampuradukkan.

Seorang anak Hindu tidak perlu ikut salat Jumat untuk menunjukkan cintanya kepada teman Muslim. Seorang anak Muslim juga tidak perlu ikut melukat untuk membuktikan penghormatannya kepada masyarakat Hindu Bali.

Gus Nadir

Pendidikan akidah tidak dimulai ketika anak sudah dewasa. Ia dimulai dari percakapan- percakapan sederhana di rumah, ketika orang tua membantu anak memahami mengapa kita menghormati semua agama, tetapi tetap beribadah sesuai tuntunan agama kita sendiri.

Barangkali, penghormatan yang paling tulus kepada sebuah agama adalah membiarkan agama itu tetap menjadi dirinya sendiri. Kita tidak merendahkan kesakralan melukat dengan menyebutnya sekadar mandi. Sebagaimana kita juga tidak ingin wudu dipahami hanya sebagai membasuh wajah dan tangan.

Ini bukan pandangan yang memusuhi Bali atau Hindu. Justru dengan mengakui melukat sebagai ritual yang sungguh-sungguh sakral bagi umat Hindu, kita sedang menghormati maknanya. Menyebutnya sekadar mandi atau atraksi budaya malah dapat mereduksi kesucian yang diberikan oleh pemeluknya sendiri.

Anak-anak tentu perlu diperkenalkan kepada keberagaman. Ajaklah mereka mengunjungi pura dengan sopan. Jelaskan makna upacara Hindu. Perkenalkan tarian, sejarah, sastra, arsitektur, dan filosofi Bali.

Ajarkan mereka bahwa teman yang berbeda agama harus dilindungi dari ejekan dan diskriminasi. Namun pada saat yang sama, terangkan bahwa mengenal tidak selalu berarti mengikuti. Menghormati tidak selalu berarti mempraktikkan.

Seorang anak Hindu tidak perlu ikut salat Jumat untuk menunjukkan cintanya kepada teman Muslim. Seorang anak Muslim juga tidak perlu ikut melukat untuk membuktikan penghormatannya kepada masyarakat Hindu Bali.

Kita tidak perlu kehilangan iman untuk mencintai Bali. Dan kita tidak perlu membenci Bali untuk menjaga iman. Toleransi bukanlah saling meminjam ritual, melainkan saling menghormati keyakinan, sambil tetap setia berjalan di jalan yang kita yakini.

Sebenarnya hal-hal sederhana ini sudah lama kita ketahui dan praktekkan bukan? Tapi memang kita jadikan momentum kehebohan keluarga selebriti yang ikutan melukat itu sebagai cara kita untuk terus saling mengingatkan batas antara tradisi dan ritual keagamaan dan batas antara toleransi dan akidah.

Tabik,

Nadirsyah Hosen

 

 

 

SendShare160Tweet100Share

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Previous Post

Best Honey, Cerdik Melakukan Berbagai Promo di Ranah Digital

Next Post

Brand Legend yang Memiliki Identitas Merek dan Komitmen Halal yang Kuat

Related Posts

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

1 Muharram: Momen Kebangkitan Spiritual Kita

by Akbar Halal Today
Juni 28, 2025
0

1 Muharram bukan sekadar awal tahun, tapi panggilan sunyi bagi jiwa yang lelah. Ia mengetuk kalbu yang tertidur, mengajak hijrah—bukan...

Rajawali yang Tumbuh di Kandang Itik

Rajawali yang Tumbuh di Kandang Itik

by Akbar Halal Today
Juni 25, 2025
0

Di sebuah desa yang dikelilingi sawah dan kabut pagi, seorang petani tua menemukan telur besar. Tak tahu asalnya, ia meletakkannya...

Next Post
Brand Legend yang Memiliki Identitas Merek dan Komitmen Halal yang Kuat

Brand Legend yang Memiliki Identitas Merek dan Komitmen Halal yang Kuat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

berita halal today indonesia

Portal berita yang membahasa industri dan ekosistem halal di Indonesia secara terkini dengan suguhan data-data aktual serta faktual.

Selain itu , Halaltoday.id juga memberikan ruang lingkup bisnis baru yang terkemuka dan terpercaya melalui jaringan-jaringan usaha mulai korporasi hingga skala unit usaha kecil menengah.

  • 327 Fans
  • 944 Followers
  • 123 Subscribers
  • 255 Followers

© 2025 Halaltoday.id – All Right Reserved

  • Kebijakan Privasi
  • Kebijakan Publikasi
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
  • Halal Updated
  • Halal Brand
  • Halal Lifestyle
  • Brand Index
    • Digital Halal Brand Index 2025
    • Halal Brand Consumer Choice Index 2025
    • Sharia Index
  • Khazanah GNH

© 2025 Halaltoday.id - All Right Reserved &

Go to mobile version