Para ilmuwan masih terus meneliti bagaimana faktor genetik dan lingkungan membentuk kecerdasan seorang anak. Ada yang menyoroti peran gen dari ibu, ada pula yang menegaskan bahwa kecerdasan merupakan hasil interaksi yang jauh lebih kompleks. Saya tidak hendak masuk ke perdebatan itu. Saya tahunya cuma mengaji kecil-kecilan saja.
Saya cuma teringat dengan kisah Ibu Nabi Musa. Saya percaya ketegaran dan keteguhan Musa dalam menjalankan misi kenabiannya tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dan pengorbanan ibunya.
Mungkin anda sering mendengar kisah ini, tapi mari kita lihat korelasi peristiwa saat ibu Musa berdiri di tepi Sungai Nil, dan kelak puluhan tahun berikutnya Musa berdiri di tepi Laut Merah saat dikejar Firaun.
Simak yuk narasi di bawah ini 🙏🏻
Ada pola yang sangat indah dalam kisah Nabi Musa.
Di awal kehidupannya, yang berdiri di tepi air adalah seorang ibu.
Di akhir fase perjuangannya melawan Fir’aun, yang kembali berdiri di tepi air adalah sang anak.
Seolah Allah sedang memperlihatkan bahwa keberanian seorang anak sering kali berakar pada keberanian ibunya.
Ibu Musa berdiri di tepian Sungai Nil dengan hati yang nyaris pecah. Bayi yang baru dilahirkannya harus dihanyutkan demi menyelamatkan nyawanya. Secara naluri, seorang ibu ingin memeluk anaknya seerat mungkin. Namun kali itu, justru ia diperintahkan melepaskannya.
Allah berfirman:
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia. Apabila engkau khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai. Janganlah engkau takut dan janganlah bersedih. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang rasul.’”
(QS. al-Qasas [28]: 7)
Perintah itu tampak bertentangan dengan logika. Mana ada seorang ibu menyelamatkan bayinya dengan menghanyutkannya ke sungai? Tetapi keimanan sering kali dimulai ketika logika telah mencapai batasnya.
Lalu Allah menggambarkan gejolak hati sang ibu:
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Hampir saja ia menyatakan (rahasia tentang) Musa seandainya tidak Kami teguhkan hatinya agar ia termasuk orang-orang yang beriman.”
(QS. al-Qasas [28]: 10)
Ayat ini sangat menyentuh. Allah tidak mengatakan ibu Musa tidak sedih. Bahkan hatinya kosong (fārighan), hampir tak sanggup menahan rasa kehilangan. Tetapi Allah “mengikat dan meneguhkan hatinya” (رَبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا) sehingga ia tetap bertahan dalam iman hingga akhirnya Allah mengembalikan Musa kepadanya untuk disusui, sebagaimana janji-Nya.
Bertahun-tahun kemudian, Musa telah dewasa.
Kini ia sendiri berdiri di depan lautan. Di belakangnya Fir’aun dan seluruh pasukannya. Di depan hanya air yang membentang.
Bani Israil panik. Allah berfirman menceritakan momen menegangkan itu:
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
“Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’”
(QS. al-Syu’ara [26]: 61)
Musa menjawab:
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Musa berkata, ‘Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku.’”
(QS. al-Syu’ara [26]: 62)
Kemudian Allah memerintahkan:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahannya seperti gunung yang besar.”
(QS. al-Syu’ara [26]: 63)
Ada satu benang merah yang sangat indah.
Pada kisah pertama, Allah berkata kepada sang ibu:
وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي
“Janganlah engkau takut dan janganlah bersedih.”
(QS. al-Qasas [28]: 7)
Pada kisah kedua, Musa berkata kepada kaumnya:
كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. al-Syu’ara [26]: 62)
Seolah-olah, ketenangan yang Allah tanamkan di hati seorang ibu di tepi Sungai Nil bertahun-tahun kemudian berbuah menjadi keteguhan seorang nabi di tepi Laut Merah.
Pada dua momen paling menentukan dalam kisah Musa, yang menyelamatkan mereka bukanlah kekuatan manusia, melainkan kepercayaan penuh kepada janji Allah. Yang pertama dimiliki oleh seorang ibu. Yang kedua dimiliki oleh seorang nabi.
Sang ibu diajari bertawakal ketika harus melepaskan anaknya ke sungai. Sang anak kemudian menampilkan tawakal yang sama ketika harus menghadapi laut dan pasukan Fir’aun.
Maka jangan pernah meremehkan perjuangan seorang ibu.
Ketika ia memilih sabar daripada putus asa, memilih berdoa daripada mengeluh, memilih tawakal daripada menyerah, mungkin saat itu ia sedang menanam benih yang baru akan dipanen puluhan tahun kemudian oleh anak-anaknya.
Ibu Musa tidak pernah menyaksikan saat bayinya kelak berdiri di depan Laut Merah. Namun keberanian di tepian Laut Merah itu, dalam banyak hal, telah dimulai jauh sebelumnya, di tepian Sungai Nil.
Untuk para Ibu yang kini tengah kelelahan mendidik putra-putrinya; yang tengah berjuang akan masa depan anak-anaknya; yang tetap memilih percaya bahwa perjuangan dan pengorbanan untuk anak-anak tak akan pernah sia-sia, ayat ini memang turun untuk ibu Musa. Namun rahmat Al-Qur’an membuat setiap ibu yang sedang menangis karena anaknya merasa seolah Allah juga sedang berbicara kepadanya.
وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي
“Janganlah engkau takut dan janganlah bersedih.”
(QS. al-Qasas [28]: 7)
Kelak rasa percaya dan berbaik sangka akan kasih sayang Allah itu akan menemukan bentuknya pada saat anak-anak besar dan menghadapi momen menentukan dalam hidup mereka. Semoga anak-anak kelak akan bisa berkata dengan penuh keimanan seperti Nabi Musa:
“Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. al-Syu’ara [26]: 62)
Mungkin memang begitulah cara Allah membangun sebuah generasi. Sebelum Dia membentuk seorang nabi di tepi Laut Merah, Dia lebih dahulu membentuk seorang ibu di tepi Sungai Nil.
Tabik,
Nadirsyah Hosen

